Berani Tidak Populer

Berani Tidak Populer

“Mendengar sesuatu dari orang lain, jauh dari cukup. Mendengar sendiri masih juga belum cukup. Melihat dengan mata kepala sendiri pun, jika hanya sebagian, belumlah cukup. Bahkan terkadang sangat berbahaya. Maka seorang Junzi, selalu meneliti hakikat perkara”. Kutipan tersebut merupakan penggalan cerita seorang guru yang telah salah menilai muridnya karena tidak melihat kejadian secara utuh, cerita itu bisa kita temukan di sebuah bukuBerani tidak Populer” yang ditulis oleh Budi S. Tanuwibowo.

Buku ini memang mengambil beberapa kisah dari buku lamanya, berupa serial Bertambah Bijak Setiap Hari (5 Matahari dan 8×3=23!) ditambah dengan kisah-kisah baru yang umumnya dari zaman Confusius.

Menarik, dalam maknanya. Buku ini tidak haram kalau dibaca dari belakang, kisah-kisahnya terpisah dan mandiri, terangkum dalam satu tema, kepemimpinan!

Berbagai kisah yang disajikan mungkin banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, di dalam berkeluarga, berinteraksi dengan rekan kerja, sebagai atasan, atau sebagai bawahan. Mudah untuk menjiwai buku ini karena pendekatannya tidak untuk menggurui pembacanya, tapi mengajak pembaca agar terbiasa memilih antara yang bijak, dan yang kurang bijak disetiap pengambilan keputusan.

Budi S. Tanuwibowo banyak menggunakan nama tokoh-tokoh yang unik. Seperti Biru, Kuning dan Merah. Atau membalik nama tokoh warna tersebut menjadi Rubi, Kinung dan Herma.

Saya rasa ini buku yang menarik untuk dibaca oleh berbagai kalangan. Namun wajib dibaca oleh setiap Pemimpin.

11 Replies to “Berani Tidak Populer”

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, Brizki….

    Membaca itu jembatan ilmu. Mudahan sedikit informasi yang diberi tentang buku ini menambah koleksi para ulat buku. Judul bukunya simple namun menarik.

    Selamat hari raya aidil fitri, maaf zahir dan bathin.
    Salam Syawal dari Sarikei, Sarawak.