ACEH – pilihan fragmen dari draft yang tidak selesai

ACEH – pilihan fragmen dari draft yang tidak selesai

[Fragmen #1]

Konon, Aceh memiliki kopi terbaik di Indonesia. Barangkali karena film Filosofi Kopi yang sempat mengangkat kenikmatan kopi gayo yang akhir-akhir ini fenomenal.

Orang-orang Aceh menyebut kopi dengan “kupi”, dengan logat yang lebih ke Malay.

Hampir di sepanjang jalan kota ini, dengan mudahnya kita bisa menemukan warung kopi. Bahkan, persis di samping hotel tempat saya menginap, ada warung kopi. Di warung itu, terenak Kupi Sanger.

Meskipun menyukai kopi, tapi saya tidak tahu banyak tentang kota Banda Aceh. Jadi saya meminta kepada kawan untuk menunjukkan kopi yang menurut dia enak. Finally, lidahku menemukannya di Kaffa Kupi. Suguhan arabika tanpa pemanis, rasanya sangat kuat ketika diseruput lalu memenuhi rongga mulut.

[Fragmen #2]

Banda Aceh kota santri. Banda Aceh kota Tsunami.

Banyak cerita yang mencengangkan dari penduduk setempat. Mulai dari kuburan massal, Masjid Baiturrahman yang kokoh, Kapal Tanker yang mendarat di daratan, Museum yang mengingatkan tentang duka dan kesedihan, sampai sebuah kapal yang terdampar di atas rumah penduduk.

Ini kota santri, lalu apa yang membuat kota ini dihukum oleh Maha Pencinta?

Dari berbagai cerita yang ada, banyak kebun ganja di Aceh, jadi Tuhan mencucinya, agar bersih seperti sediakala. Hmm… saya lebih percaya kalau penyebabnya adalah patahan di tengah laut yang bergerak, lalu menimbulkan gelombang besar dan menyapu daerah yang memang istimewa itu.

[Fragmen #3]

Di Banda Aceh saya bertemu dengan kawan-nya-kawan saya. Misi kali ini, untuk menyerahkan sebuah paket titipan. Bentuknya amat sederhana, semacam botol yang dibungkus kertas koran dan plastik.

Sepulang dari Aceh, saya langsung dihujani berbagai pertanyaan.

“Kamu ketemu langsung? Terus, dia bilang apa? Dia pakai baju apa? Cerita apa saja sama dia? Ketemunya lama atau tidak?”

Oh Tuhan, mudah sekali menebaknya, rupanya paket itu isinya “Cinta”.

[Fragmen #4]

Dan tibalah kami di sebuah daratan paling Barat – Kilometer Nol Indonesia, di Pulau Weh, Sabang. Pada sertipikat yang ditandatangani oleh Walikota Sabang ini dituliskan bahwa saya adalah pengunjung ke 155.585

Memang membutuhkan waktu sekitar 50 menit dengan Kapal Feri, tapi Indonesia hampir 71 tahun merdeka, dan saya masih pengunjung ke 155.585? Serius? Ada berapa banyak pengunjung sebelum sertipikat ini diterbitkan?

Sedikit waktu dari agen travel, sedikit sekali keindahan yang bisa dinikmati. Saya hanya menemukan sebuah tebing yang ditandai dengan tugu tinggi yang disiram teriknya panas matahari.

Ya, sebuah isyarat, bahwa pembangunan monster besi sudah mencapai ujung Barat. Oh, rasanya saya ingin ke Merauke. Saya ingin ke Timur, paling Timur!

[Fragmen #5]

Pada kenyataannya saya amat merindukan seorang perempuan ketika menempuh perjalan ke Banda Aceh. Sepertinya, saya sedang berdoa, atau sangat berharap dia duduk di kursi tengah, sambil menghabiskan makanan yang dibawakan oleh pramugari, atau sambil bermain game, atau sambil membaca buku-

-atau apa saja yang disukainya!

Apa saja yang disukainya!

Asal dia duduk manis di kursi tengah, persis di samping tempat saya duduk. Agar saya lupa, bahwa saya sedang berada di ketinggian.

Saya ingin pulang, membawakan sesuatu untuknya.

4 Replies to “ACEH – pilihan fragmen dari draft yang tidak selesai”

Leave a Reply