Kentut

Kalau kita jalan-jalan di mall, di kantor-kantor, di sebuah gedung yang tertutup dan ber-AC, biasanya ada penanda. “Dilarang Merokok!” Mengapa demikian? Tentu saja karena asap rokok yang terus berputar di ruangan tertutup amat mengganggu orang lain, khususnya bagi mereka yang tidak merokok.

Saya sendiri juga seorang perokok, tapi kalau ada penanda dilarang merokok, ya tidak merokok di situ. Kecuali kepepet #eh

Di Indonesia, barangkali peringatan yang paling keras pada saat Anda berada di dalam pesawat. Pramugari bilang, “Bagi penumpang yang diketahui merokok akan dituntut sesuai perundangan yang berlaku!” Nah, pramugari yang cantik pun tidak akan bisa mengubah esensi kalimat ini, ini ancaman untuk perokok, bisa gawat urusannya kalau dilanggar. Alasannya sama, akan mengganggu penumpang lainnya, melanggar HAM!

Nah, kalau perokok mudah saja ditemukan pelakunya, asal baunya dari mana, asal asapnya dari mana? Pelaku bisa diringkus kurang dari semenit. Tapi bagaimana jika gangguan itu bukan berasal dari asap rokok?

Misalnya, kentut. Apalagi kentut tanpa suara namun menusuk hidung dengan kejamnya. Ini serupa maling berbaju hitam mengendap-endap di malam hari, sulit ditemukan. Picik! Pengecut! Tidak berperikemanusiaan!

Kejadian perkentutan ini saya alami pada penerbangan Makassar-Sorong hari minggu pagi yang lalu. Baunya subhanallah… seperti orang yang tidak pup selama 3 hari. Hampir semua penumpang antara sayap dan ekor menutup hidungnya, ada juga yang tidak menutup hidung, namun wajahnya penuh dengan kebencian, saya justru tidak mencurigai yang tidak menutup hidung, pelakunya pasti menutup hidungnya, dia pasti berakting.

Kisah ini menjadi tragis karena akhirnya pelaku tidak ditemukan sampai pesawat mendarat dan berhenti dengan sempurna. Pintu pun dibuka, dan dia lolos dengan lihainya.

Masalahnya, sang pelaku melakukannya berulang kali, sehingga penderitaan kami itu berlangsung cukup lama. Sebagai korban, kami merasa terhina, terzolimi, hak asasi kami dilanggar, dan tak ada yang membela kami. Huh!

Apakah saya tidak pernah kentut di pesawat? Pernah dong! Tapi saya kentut pakai etika dan selalu menghargai hidung orang lain, saya kentut di dalam toilet, dengan begitu saya bisa terpuaskan karena ada exhaust-nya. Kentut saya juga bisa bergabung dengan partikel-partikel bebas di langit nusantara yang luas.

Nah sudah saatnya, urusan kentut ini menjadi perhatian utama kementerian terkait, khususnya Kementerian Perpesawatterbangan. Buatlah semacam peraturan, agar setiap penerbangan dipasangkan plang bertuliskan “Ruangan tertutup dan ber-AC, dilarang kentut!”

2 thoughts on “Kentut”

Comments are closed.