Umar – Peracik Kopi

Umar – Peracik Kopi

Dimulai sejak beroperasi di atas got (baca:parit), sampai Warkop Mappanyukki semakin besar dan pindah berjualan di rumah toko guna menampung lebih banyak pelanggan. Dalam perjalanan sukses warkop tersebut, ada sumber daya kunci di situ – Umar – sang peracik kopi. Dia termasuk orang yang sabar, suka tersenyum pada pelanggan, dan rajin sembahyang. Kalau azan sudah berkumandang, dia beranjak ke masjid samping Bank Sulselbar.

Umar tidak sendiri meracik kopi di warkop ini, beberapa rekan dan mantan rekannya yang silih berganti sign lalu resign telah dilatih oleh Umar, tapi tetap tak sebaik Umar, selalu saja ada selisih rasa. Karenanya Umar adalah pegawai favorit Sang Pemilik Warkop – Haji Ical – pengusaha muda dengan model rambut yang agak nge-punk. Dia suka menaruh lagu Dewa 19 dan Padi sebagai playlist dipemutar musiknya.

Nah, kembali ke Umar. Dalam meracik kopi, Umar tidak butuh mesin seperti barista di cafe kebanyakan, dia hanya butuh kompor, beberapa teko kuningan, saringan tebal dan sendok. Dia tahu betul, kapan kopi tersebut harus dipindahkan dari satu teko ke teko yang lain.

Meskipun demikian, Umar agak kontroversial, sebab sebagai peracik, Umar tidak minum kopi. Lalu mengapa dia bisa begitu konsisten dalam membuat kopi? Umar sendiri tidak tahu jawabannya. Yang jelas, kita hanya perlu datang 3 atau 4 kali ke warkop ini sampai Umar tahu selera kita. Selebihnya, kita tidak perlu lagi memesan, “tipis atau tebal”, pakai “susu atau polos”. Dia tahu kebiasaan-kebiasaan dan selera kita.

Oke, sekian dulu guys… selamat ngopi dan selamat menikmati libur.