Imagining The Future

Begitu mendapat link eventbrite dari Yayasan BaKTI, saya langsung register 1 seat, masih tersisa banyak sih waktu itu, tapi mau ngajak siapa? Ga tahu, jadi saya memutuskan untuk pergi sendiri saja.

Sabtu kemarin berangkatlah diriku ini menuju Gedung Kesenian yang ada di dekat Kantor RRI. Saya sudah berkali-kali ke gedung itu sebenarnya, di depannya ada tertulis “Societeit de Harmonie”. Entah ini agak kebelanda-belandaan, atau agak keperancis-perancisan. Biarlah para pecinta seni yang kritis soal ini. Saya hanya menyukai acaranya.

“Showcase: Imagining The Future.”

Karena bukan seniman, saya sulit berimajinasi. Apalagi berimajinasi tentang bagaimana seseorang mengimajinasikan masa depan #kusut #otakkananganyampe. Jadi tidak ada pilihan lain, saya harus ke sana. Setidak-tidaknya, ketika saya pulang, saya sudah tidak berimajinasi lagi tentang bagaimana seseorang mengimajinasikan masa depan #kusutlagi #kaliiniotakkiri.

Setiap orang punya harapan tentang masa depannya, bahkan harapan tentang masa depan orang-orang dekat yang dicintainya, atau bahkan pada cakupan yang lebih luas, masa depan masyarakat dan generasi-generasi penerusnya. Nah soal imagining the future yang mengisi acara inti ada 5 penampil. 4 keren, 1 standar.

Violet Rish. Violet membayangkan masa depan di mana sebagian besar pekerjaan manusia akan digantikan oleh robot. Robot-robot ini diciptakan oleh ilmuwan untuk memudahkan pekerjaan manusia yang cenderung tetap dan membosankan. Menyetir, membuat kopi, membersihkan, atau menutup dan membuka jendela rumah suatu hari akan dilakukan oleh robot. Violet juga menawarkan gagasan baru pada masalah sulitnya untuk memiliki rumah bagi orang-orang yang berpenghasilan terbatas. Gagasan ini berhasil dilakukan oleh seorang cendikia yang membangun komunitas pemukiman di Brisbane tempat tinggalnya. Setiap rumah dibangun oleh anggota komunitas itu sendiri, saling bantu satu sama lain hingga rumah selesai. Katanya konsep seperti ini mampu menekan biaya untuk memiliki rumah hingga 40%.

Soal kepemilikan rumah, Violet berharap kalau di Indonesia dan negara lain juga bisa menerapkan konsep seperti ini. Rumah kecil di atas tanah yang kecil tapi layak huni, juga merupakan solusi atas keterbatasan lahan di tengah-tengah padatnya penduduk dunia.

Imran Lapong. Imran seorang guru selam rupanya, dia juga seorang biologist. Imran bercerita tentang kehebatan rumput laut merah. Baginya, rumput laut merah adalah pahlawan dalam ekosistem laut. Dia mampu menyerap racun limbah yang terbuang ke laut (“Dia” yang saya maksud dalam kalimat ini adalah rumput laut, bukan Imran).

Selain bermanfaat untuk lingkungan, rumput laut merah juga memiliki peran penting untuk aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, sebab bertani rumput laut tidak membutuhkan pakan, jadi biaya produksinya rendah. Rumput laut digunakan sebagai salah satu faktor produksi untuk banyak produk akhir, seperti shampo, sabun mandi, pasta gigi hingga kosmetik dengan harga ratusan ribu rupiah.

Mansyur Rahim, berusaha memecahkan masalah kemacetan dan tampil dengan tema future transportation. Beberapa tahun belakangan kondisi transportasi di Makassar memang macet. Sebenarnya future transportation inilah yang membuat saya tergerak menuju acara ini. Tetapi menurut saya (secara pribadi), gagasannya tidak memecahkan masalah kemacetan. Isu kemacetan adalah persoalan yang rumit di banyak kota besar. Ada banyak sekali jurnal yang membahas tentang kemacetan dari berbagai pendekatan. Dan kita akan menemukan bahwa kondisi spasial, kepadatan penduduk, kelahiran pusat-pusat bisnis baru, perencanaan dan penataan kota, ragam moda transportasi dan infrastruktur serta high cost economy adalah bagian dari isu yang sebenarnya tidak bisa dikisahpisahkan.

Terlepas dari isu kemacetan, keberanian Mansyur Rahim yang mengubah pete-pete (Angkot) menjadi moda transportasi baru dengan rute tertentu patut diacungi jempol. Dia berhasil membuat 2 unit Passikola (begitu dia menyebutnya) untuk mengantar anak-anak sekolah yang bisa diakses melalui aplikasi berbasis daring sehingga keberadaan anak-anak bisa dikontrol oleh orang tua.

Andi Hilmi. Informasi yang saya dengar dari kawan yang saya temui di acara showcase ini, Hilmi sebenarnya mahasiswa antropologi. Namun Hilmi berhasil menerima penghargaan karena mampu menyulap minyak goreng bekas menjadi bahan bakar perahu kapal nelayan. (Untuk seorang mahasiswa antropologi, jelas ini big wow). Selain itu, Hilmi juga berhasil menciptakan lapangan kerja baru dan memberi penghasilan untuk beberapa preman di daerah pesisir.

Yandi Laurens adalah seorang dosen jurusan seni di Jakarta. Menurut Yandi, masa depan akan selalu beririsan dengan seni. Seni mampu membuat manusia menjadi optimis dan menghargai proses. Tak ada yang benar dan tak ada yang salah dalam seni, dan itu yang mendorong seseorang untuk lebih berani menatap masa depan.

Penampilan Yandi semacam kesimpulan dari gerakan inovasi 4 penampil sebelumnya, dan ditutup dengan karya film pendek yang dibuatnya. Film pendek itu berjudul “Indonesia itu rumah”. Film ini menarik karena menggugah perasaan, sedih sekaligus jenaka. Mengajak kita untuk lebih menghargai pendapat orang lain. Dan yang paling penting, film ini berisi pesan tentang arti kehidupan dan kampung halaman. Nonton yuk, klik di sini.

2 thoughts on “Imagining The Future”

  1. Yaa, kok ngajak sayah, saya kan hanya pernah lewat aja diseputaran RRI *lha, mak. Emang lo paham melihat karya seni? Bukannya kerutan dijidat bakal makin nambah? Bisa repot lagi kalau langsung keliyengan dan ga tau jalan pulang 😀 *
    Keren ya bagi mereka yang bisa membuat karya yg bersifat “future” *kalau saya cukup jd penggemar film Bact to Future yg tak pernah bosan nontonnya kalo disetel di tipi 😀 *

Comments are closed.