Catatan Harian Adam dan Hawa

Bahkan di surga sekali pun, Tuhan tidak ingin hambanya sendiri. Itulah mengapa Hawa diciptakan.

Tadinya saya pikir, seandainya saya diciptakan sebagai manusia pertama (sebagai Adam), lalu tiba-tiba datang seorang Hawa, saya akan girang bukan main. Kemudian bilang “Ini nih teman hidup gue…” Haha…

Continue reading Catatan Harian Adam dan Hawa

What I Talk About When I Talk About Running

Haruki Murakami, sebelumnya saya tidak begitu tahu siapa dia, sampai selesai membaca Norwegian Wood. Setelah gugling saya menemukan Murakami telah meraih berbagai penghargaan dalam karirnya sebagai penulis. Oke, kali ini saya mau berbagi tentang bukunya yang lain. What I talk about when I talk about running.

Berbeda dengan karyanya yang lain, “What I Talk About When I Talk About Running” terasa lebih nyata. Lebih banyak bercerita tentang kehidupan pribadinya sebelum menjadi penulis dan kegemarannya akan berlari. Dari buku ini, saya merasa lebih mengenal Murakami lebih dekat.

Murakami menyisipkan nilai-nilai filsafat melalui buku ini. Dia bercerita tentang dirinya yang manusia biasa, pernah berwirausaha, dia senang menyendiri, pada saat tertentu dihinggap rasa ragu. Tapi secara umum, bukunya ini lebih banyak bercerita tentang hubungan antara kegemarannya akan berlari dan karirnya sebagai penulis. Semuanya berkaitan dan mengalir seperti kehidupan lainnya.

Saya tidak menganggap buku ini sebagai sebuah novel, juga bukan karya fiksi. Di buku ini dia menulis dan menunjukkan sikapnya yang rendah diri, dan menceritakan kehidupannya dengan jujur (setidak-tidaknya menurut saya). Bahkan pada bab tertentu dia menganggap dirinya minim kecerdasan (meskipun kalau kita mencari tentang dirinya di internet dia memiliki banyak penggemar dan diganjar banyak penghargaan). Menurut saya, sepertinya buku ini lebih cocok ke kelompok pengembangan diri.

Murakami memperkenalkan dirinya seperti orang biasa seperti halnya dengan kita. Kalimatnya sederhana dan mudah kita mengerti (tentu saya juga harus berterima kasih pada yang menerjemahkan buku ini dengan baik), namun di buku ini dia tidak kehilangan jati dirinya. Penulis, yang pandai bercerita.

Yang tertarik silahkan hunting sendiri ya 🙂

Berani Tidak Populer

“Mendengar sesuatu dari orang lain, jauh dari cukup. Mendengar sendiri masih juga belum cukup. Melihat dengan mata kepala sendiri pun, jika hanya sebagian, belumlah cukup. Bahkan terkadang sangat berbahaya. Maka seorang Junzi, selalu meneliti hakikat perkara”. Kutipan tersebut merupakan penggalan cerita seorang guru yang telah salah menilai muridnya karena tidak melihat kejadian secara utuh, cerita itu bisa kita temukan di sebuah bukuBerani tidak Populer” yang ditulis oleh Budi S. Tanuwibowo.

Buku ini memang mengambil beberapa kisah dari buku lamanya, berupa serial Bertambah Bijak Setiap Hari (5 Matahari dan 8×3=23!) ditambah dengan kisah-kisah baru yang umumnya dari zaman Confusius.

Menarik, dalam maknanya. Buku ini tidak haram kalau dibaca dari belakang, kisah-kisahnya terpisah dan mandiri, terangkum dalam satu tema, kepemimpinan!

Berbagai kisah yang disajikan mungkin banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, di dalam berkeluarga, berinteraksi dengan rekan kerja, sebagai atasan, atau sebagai bawahan. Mudah untuk menjiwai buku ini karena pendekatannya tidak untuk menggurui pembacanya, tapi mengajak pembaca agar terbiasa memilih antara yang bijak, dan yang kurang bijak disetiap pengambilan keputusan.

Budi S. Tanuwibowo banyak menggunakan nama tokoh-tokoh yang unik. Seperti Biru, Kuning dan Merah. Atau membalik nama tokoh warna tersebut menjadi Rubi, Kinung dan Herma.

Saya rasa ini buku yang menarik untuk dibaca oleh berbagai kalangan. Namun wajib dibaca oleh setiap Pemimpin.

BEDA

Ada sebuah buku. Tipis, sampulnya BEDA, judulnya menarik.

Setelah dibaca, ternyata bagus, eh bukan, sangat bagus, isinya penting, hanya butuh waktu sejam, buku pun selesai dibaca. Saya SUKA!

opposite

“whatever you think, think the opposite” di tulis oleh Paul Arden.

Setelah membaca buku ini, saya baru ingat, para pengajar inovasi yang pernah mengajari saya banyak mengambil contoh-contoh dari buku ini.

Gagasan buku ini sangat sederhana, cara berpikir berlawanan, sebagaimana judulnya.

Buku ini mengajak kita memperluas sudut pandang, mengapa melakukan kesalahan itu penting.

Buku “whatever you think, think the opposite” dikemas dengan cara yang berbeda. Lebih banyak gambar dari pada tulisan. Seringkali kita menemukan sebuah gambar yang memenuhi 2 halaman penuh, kalimat pendek, berpikir sejenak, lalu lanjut membaca lagi. Pokoknya buku ini beda, coba deh.

MURAH

Saya adalah salah satu orang yang bisa dibilang, “selalu terlambat membaca buku”.

Apa pasal? Saya sering menunggu sampai harga buku tersebut turun, biasanya kalau toko buku besar sudah mau cuci gudang dan peminat buku itu sudah berkurang. Umumnya buku-buku dengan harga murah ini disimpan di bagian depan toko agar mudah kelihatan, bercampur dengan buku-buku masakan, operasi komputer dan kamus yang tidak laku-laku, jadi harus rajin mencakar-cakar tumpukan buku yang bercampur. Atau kalau saya ke Jakarta, paling senang berburu di Thamrin City, di sana ada bursa buku bekas ex kuitang. Murah! Mmmantap! Bisa nego! Bisa ngobrol dengan penjual. Hehe… pdkt biar dikasi harga murah…

murah-tapi-bukan-murahan

Saya beruntung dalam satu kali pembelian bisa menemukan buku lama bersegel dengan total harga 65.000. “Ibuk“ dengan harga 15.000, “Secangkir The Hangat Kehidupan” dengan harga 15.000, “The Coke Machine” dengan harga 35.000. Alhamdulillah, banyak hal yang bisa dipelajari dari ketiga buku ini.

Berikut laporan investigasinya…

Ibuk – barangkali sudah banyak orang yang sudah membaca buku ini. Sebuah novel yang menceritakan tentang sulitnya kehidupan sebuah keluarga dan kebajikan seorang Ibu. Anda akan diajak untuk bersedih, iba, kemudian tiba-tiba Anda akan merasa terpanggil untuk selalu menatap kesulitan menjadi sebuah tantangan untuk dijalani. Anda akan tersadar, bahwa sebenarnya kesulitan bukanlah penderitaan, penderitaan hanyalah persepsi belaka.

Secangkir Teh Hangat Kehidupan – ketika memasuki pintu-pintu buku ini, jelas buku ini bukan tentang sebuah minuman hangat yang berwarna merah, tetapi tentang keceriaan, kebahagiaan, kearifan dan kebajikan. Untuk menggapai itu semua, kata kuncinya, “Bersyukur!”

The Coke Machine – bukan sebuah novel ataupun cerpen, buku ini tentang kekuatan sebuah trik pemasaran sebuah produk minuman dingin dari awal berdiri hingga menjadi perusahaan besar yang produknya tersebar keseluruh penjuru dunia.