Kekerasan Terhadap Anak

Tadi siang, saya didatangi seorang petugas. Katanya sih dari Unicef, pakai kemeja berlogo Unicef. Tahukan Unicef? Ah, masa tidak tahu, saya juga tidak tahu. Haha…

Dia menanyakan tentang kesediaan saya meluangkan waktu untuk berpendapat tentang kekerasan terhadap anak. Dan saya bersedia selama dia tidak menjual produk apa pun ke saya. #Astagfirullah, sempat suudzon.

Dia bercerita tentang angka statistik kekerasan terhadap anak dan berbagai kasus kekerasan terhadap anak yang ada di dunia. Dia memperlihatkan sebuah gambar dengan 4 tema kekerasan anak-anak yang harus saya pilih salah satu untuk dibahas;

  1. Kekerasan seksual terhadap anak-anak.
  2. Kekerasan anak di dalam rumah tangga.
  3. Kurangnya standar gizi anak-anak.
  4. Kurangnya akses pendidikan anak-anak.

Sontak saya memilih tema nomer 4. Entah kenapa saya memilih itu. Tapi yang pasti, saya paling tidak suka kalau ada anak-anak dilarang sekolah, dilarang membaca, dibodohi, apalagi diminta bekerja dan dimanfaatkan untuk kepentingan mencari uang.

Membahas soal anak-anak, anak kecil juga mempengaruhi kegemaran saya akan memotret. Ekspresi mereka itu lho…, selalu unik kalau difoto. Mereka makhluk yang mengagumkan. Ajaib. Seharusnya para orang tua bisa menyadari ini, tapi kok masih terjadi kekerasan ya?

Inilah kenyataannya sebagian dari mereka memang masih minim akses terhadap berbagai hal yang seharusnya sudah menjadi hak mereka. Misalnya pendidikan, waktu bermain, waktu bersama orang tua dan perlindungan dari berbagai pihak di lingkungan sekitarnya. Mereka generasi penerus bangsa, tanggung jawab bersama.

Saya juga dimintai bantuan oleh Si Ibu dari Unicef untuk mensosialisasikan tentang kekerasan anak di berbagai media yg saya gunakan. Lalu dia menyerahkan sebuah piringan CD berisikan film tentang kekerasan terhadap anak kecil, juga bahaya yang mengancam anak kecil ketika mereka tidak didampingi oleh orang tua dan sebagainya.

Nah, teman-teman tolong bantu ya… Terdapat 4 film edukasi singkat yang bisa bermanfaat. Percaya deh, tidak ada virus atau yang lainnya, apalagi pornografi. Download melalui link di bawah ini ya.

Unicef – Kisah Si Aksa.mpg

Unicef – Kisah Si Geni.mpg

Unicef – Pelindung Anak.mpg

Unicef – Perkawinan Usia Anak.mpg

Disco Lazy Time

Tadi sore whatsapp’an sama bos (berikut isinya yang mudah-mudahan ejaannya telah disempurnakan sesuai kaidah dan aturan berbahasa Indonesia yang baik dan benar karena sebenarnya saya dan bosku menggunakan bahasa lokal yang kemungkinan besar bapak ibu dan saudara-saudari kurang mengerti kalau saya tuliskan dengan bahasa yang kami gunakan) #kusut 😀 Kurang lebih begini percakapan kami.

Saya : Selamat sore Bu. Apa saya bisa mengajukan cuti tahunan selama 6 hari kerja? Terhitung mulai tanggal 13 sampai 20 Desember 2016.

Boss : Bisa saja Pak, yang penting semua yang terkait kegiatan akhir tahun termasuk lelang sudah dituntaskan.

Saya : Saya tidak masuk dalam kepanitiaan lelang akhir tahun ini, Bu. Untuk kegiatan akhir tahun lainnya saya siap dipanggil untuk masuk kantor jika diperlukan, karena cuti kali ini saya tidak keluar kota.

Boss : Oke sip.

Saya : Terima kasih banyak Bu. #iconhormattakzim

Tentunya hasil percakapan di atas akan ditindaklanjuti dengan pengajuan formulir cuti yang akan beliau tanda tangani. Oh ya, kenapa cuti tahun ini saya tidak keluar kota dan kenapa hanya 6 hari kerja padahal kuota cuti saya semuanya 14 hari kerja termasuk sisa cuti tahun lalu, akan saya tuntaskan di postingan berikutnya. Okey, disco lazy time…

Nb: Image diunduh dari brilio.net

Aksi 412 yang Latah

Setelah aksi 212 yang damai nan sukses, sekarang ada pula aksi 412 yang latah. Anehnya, beredar kabar bahwa aksi ini mewajibkan pegawai negeri sipil dari berbagai instansi untuk turun ke jalan. Eh, bukankah itu bentuk pelanggaran?

Rasanya lucu melihat aksi ikut-ikutan dari para tomas (baca: tokoh masyarakat dan para anggota parpol) yang mengusung tema “Kita Indonesia” itu. Kelihatannya lebih mirip ibu-ibu yang doyan mengulang gosip bersama penjual sayur.

“Musuh bangsa bukan kelompok atau golongan, tetapi kebodohan dan kemiskinan”. Ah, orasi yang klasik! Orasi tidak melunturkan dosa-dosa terhadap saudara-saudara kita yang masih kekurangan akses atas pendidikan dan sumber daya. Lalu selanjutnya apa Bapak Ibu sekalian? Bukankah sampah masih berserakan setelah aksi bubar?

Saya langsung teringat lagunya Slank – “Prakiraan Cuaca” yang ngerock habis itu. Yang kedua ini, pasti ditunggangi…

Nb: Foto diunduh dari google

Nightlife di Kuta – Bali

Sebenarnya saya tidak benar-benar menjelajahi sisi Nighlife di Kuta – Bali. Tidak, saya tidak terbiasa dengan kehidupan malam, saya bukan kelelawar. Dan yang saya lakukan adalah berusaha untuk menunda menutup mata di malam hari, hanya sekadar ingin melihatnya secara langsung. Hanya itu. Nah berikut beberapa tempat yang sempat saya kunjungi di malam hari.

Berbagai Rupa Bar di Jalan Legian

Di jalan legian, Bom Bali meledak. Ada sebuah tugu yang mengabadikan nama-nama korban. Di sepanjang jalan ini memang dipenuhi dengan bar. Turis dari berbagai negara pun sangat senang menghabiskan waktu di daerah ini. Mereka berpesta, tertawa, dan mabuk. Daerah ini tidak tampak seperti Indonesia kalau malam hari. Tempat ini dipenuhi turis yang berpakaian seksi. Guys… pesan saya, jangan coba-coba datang ke tempat ini tanpa membawa pasangan. Dijamin, Anda akan stress… 😀

Paradiso Bowling

Awalnya bowling saya anggap sebagai olah raga eksklusif dan tidak cocok untuk pria sederhana, lincah, gesit dan attraktif seperti saya #apacoba. Tapi karena dikasi tiket gratis 1 kali game dari hotel maka dicobalah olah raga bowling ini. Paradiso bowling terletak di sebuah kompleks di jalan kartini. Kita akan menemukan banyak jasa pembuat tatto di sepanjang jalan masuk kompleksnya. Saat bermain ternyata harus pakai sepatu khusus, agak licin kalau dipakai. Katanya agar lebih mudah meluncur saat melepaskan bola bowling. Overall, olah raga bowling itu menyenangkan, tapi untuk menjadi hobi? Hmm… sepertinya tidak.

Hardrock Cafe Bali

Hardrock cafe bisa kita temukan di banyak kota sebenarnya. Pastinya di Bali ada juga. Saya tidak masuk ke dalam. Cuma foto2 di depannya saja. Okay… Laporan Hardrock Cafe Bali selesai. Kembali ke tempat! #eh? Cuma itu? Iya, cuma itu.

Reggae di sebuah Cafe

Inilah tempat ter-kusuka, ter-stabil, ter-sesuai dan ter… ter… lainnya selama saya di Kuta. Akibatnya saya ter-lalu lama nongkrong di tempat itu :D. Espresso double dan alunan lagu reggae yang sepertinya pas sekali dengan suasana hati yang mendadak merasa kesepian. Di sini juga tempatnya bule-bule yang hanya ingin menikmati malam dalam keadaan sadar bersama pasangan-pasangannya. Baristanya dipenuhi dengan tatto tapi ramahnya luar biasa, seperti penduduk Bali lainnya.

Pantai Pandawa yang Memukau

Minggu lalu saya diberi tugas untuk mengumpulkan data penelitian, tempatnya di Denpasar, tapi saya nginapnya di Kuta. Mwahahaha… lumayan… lumayan jauuh… perjalanan sekitar 40 menit dari Kuta ke Denpasar.

Mengumpulkan data penelitian?

Iya mengumpulkan data penelitian untuk kantor, ini memang urusan kantor. Perjalanan saya ke luar Makassar lebih banyak untuk urusan kantor ketimbang urusan pribadi. Jadi mumpung, selain melaksanakan tugas, sekalian liburan. Apalagi ini kunjungan pertama saya di Bali, yang katanya surga bagi para bule-bule galau dari seluruh dunia.

Pekerjaannya gampang-gampang sudah memang, gampangnya kami hanya datang melakukan wawancara, ambil foto, minta data sekunder, dan buat skrip hasil wawancara, buat laporan. Selesai. Susahnya saat pembuatan skrip wawancara dan laporan, tapi biasanya dilakukan di hotel, atau bahkan setelah tiba di Makassar. Untuk sementara susahnya dilupakan dulu… wkwkwk…

Hanya butuh 1 hari, 70% pengambilan data di lokus ini, rampung. Finishingnya, 30% dieksekusi di Makassar. Selebihnya jalan-jalan. Yeay…

Dengan bantuan aplikasi waze yang saya download di playstore, tanya-tanya penduduk setempat yang ramah-ramah dan motor sewaan 50 ribu per hari, maka tibalah saya di Pantai Pandawa yang memukau mata. Waktu tempuh ke tempat ini kurang lebih 40 menit dari Kuta.

Pantai Pandawa memiliki keunikan, karena di pinggirannya kita akan menemukan semacam batu yang ditumbuhi lumut, warnanya hijau kegelapan. Terlihat juga genangan air di tengah-tengah batu saat surut. Uniknya lagi, ukuran pasir di pantai ini besar, tidak padat sehingga kaki mudah tenggelam kalau diinjak, kita agak kesulitan berjalan di atas pasir pantai ini. Tapi sayang seribu sayang, saya tidak membawa pakaian ganti. Huhuhu…